Suasana Perpustakaan Daerah Bontang yang ramai kedatangan anak-anak PAUD. [Fahrul/Pranala.co]BONTANG – Menumbuhkan minat baca pada anak usia dini kerap menjadi tantangan besar bagi para orang tua dan pendidik. Namun, sebuah terobosan menarik diperlihatkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang lewat sebuah gerakan bernama Program Lintas Benua Bontang.
Alih-alih memaksa anak duduk diam mengeja huruf, program ini justru membawa ratusan anak-anak menjelajahi dunia pengetahuan dengan cara yang sangat menyenangkan. Mereka diajak berpetualang dan bersentuhan langsung dengan ribuan buku di perpustakaan daerah.
Kepala Seksi Kurikulum dan Peserta Didik PAUD dan PNF Disdikbud Bontang, Miftachul Khoir mengungkapkan, gerakan ini merupakan gagasan langsung dari Bunda PAUD Kota Bontang. Fokus utamanya adalah membangun pondasi literasi anak usia dini tanpa menghilangkan dunia bermain mereka.
“Jadi sejak dini mereka mulai kami kenalkan dengan buku. Caranya anak-anak kami ajak berkunjung ke perpustakaan,” ujar Miftachul saat diwawancarai, Selasa, 7 Juli 2026.
Berkeliling Bergilir ke Perpustakaan Daerah Bontang
Untuk menyukseskan gerakan ini, Disdikbud menggandeng Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kota Bontang. Tidak main-main, seluruh lembaga pendidikan anak usia dini di Bontang digerakkan secara masif.
Mulai dari Taman Kanak-kanak (TK), Kelompok Bermain (KB), Tempat Penitipan Anak (TPA), hingga Satuan PAUD Sejenis (SPS) mendapatkan jadwal kunjungan secara bergiliran.
“Total ada 147 lembaga PAUD se-Kota Bontang yang kami libatkan. Program ini berjalan secara rutin setiap awal tahun pelajaran baru,” tambah Miftachul. Teknis kunjungannya pun disesuaikan dengan kapasitas ruangan agar anak-anak tetap merasa nyaman dan tidak berdesakan.
Menonton Film, Mendengar Dongeng, hingga Menggambar
Lalu, apa saja yang dilakukan anak-anak di sana? Penata Layanan Operasional, Nurdaniati membeberkan bahwa atmosfer perpustakaan diubah menjadi ruang bermain yang edukatif.
Petualangan literasi mereka biasanya dimulai di ruang pemutaran mini untuk menonton video edukasi. Setelah itu, anak-anak diarahkan ke area membaca yang dirancang santai, hangat, dan jauh dari kesan kaku.
“Anak-anak juga diberi kesempatan mengekspresikan diri melalui kegiatan menggambar dan menulis. Sesekali kami juga menghadirkan pendongeng, baik dari guru TK maupun pihak luar,” kata Nurdaniati.
Respons Positif Orangtua: Anak Minta Balik Lagi
Pendekatan humanis ini terbukti membuahkan hasil manis. Kebiasaan membaca anak yang awalnya sulit dipupuk di rumah, kini mulai tumbuh secara natural. Dampak sosial dari program ini bahkan langsung dirasakan oleh para orang tua.
Banyak wali murid mengaku terkejut melihat perubahan perilaku buah hati mereka pascakunjungan. Perpustakaan yang dulunya dianggap tempat membosankan, kini menjadi lokasi yang paling dirindukan anak-anak.
“Biasanya setelah kunjungan, anak-anak cerita tentang keseruan mereka. Bahkan, ada yang sampai merengek mengajak orang tuanya datang lagi ke perpustakaan karena ketagihan,” ungkap Nurdaniati tersenyum.
Lewat Program Lintas Benua Bontang, pemerintah setempat menaruh harapan besar agar kecintaan terhadap buku ini terus bertahan hingga mereka dewasa, sekaligus mendongkrak indeks literasi masyarakat Kota Bontang di masa depan. (PRA)
Tidak ada komentar